Kamis, 26 November 2015

SOSMED, Mendekatkan Yang Jauh Menjauhkan Yang Dekat..

sumber kompasiana/internet
KOMPSIANA-Pesatnya perkembangan teknologi merupakan suatu pencapaian positif umat manusia. Dengan teknologi, manusia terbantu dalam melakukan banyak hal. Bahkan seluruh kegiatan manusia kini tak lepas dari peralatan-peralatan teknologi sederhana hingga teknologi tercanggih. Dari segudang kebaikan yang dibawa teknologi dalam kehidupan manusia, teknologi rupanya membuat manusia menjadi lebih malas. Murah meriahnya kendaraan bermotor membuat manusia malas untuk berjalan, perjalanan kurang dari 500 meter saja harus menggunakan kendaraan bermotor. Cucian hanya beberapa potong saja harus dicuci dengan mesin cuci, dll. Kekhawatiran yang paling saya takutkan dari teknologi adalah pengaruh smartphone terhadap mental manusia. Jujur, saya juga termasuk orang yang kecanduan gadget, sosial media, dan ngeblog. Gadget menjauhkan kita dari keluarga yang ada didepan mata kita. "Sosial media mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat". Melalui tulisan dan video yang saya lampirkan ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk berkomitmen mengurangi penggunaan gadget. Mulailah dari keluarga: saat berkumpul bersama keluarga, jauhkan gadget dari pandangan kita. Atau bisa juga dengan tidak membeli paket internet, selain menghemat, kita juga memperoleh keuntungan terhindar dari penyakit otak yang disebabkan oleh ketagihan terhadap penggunaan smartphone (search di google dampak ketagihan penggunaan gadget). Tak membeli paket internet mungkin terlalu ekstirim, karena memang internet telah menjadi kebutuhan untuk terhubung dengan keluarga atau rekan kerja kita diseberang kota, pulau atau bahkan negara yang jauh disana. Solusinya kurangilahlah kuota paket internet yang kita gunakan, cara ini dapat melatih kita untuk berfikir dua kali ketika ingin bergadget hore ria. Intinya, gunakanlah internet secukupnya, bukan sesuka hati Sekarang adalah bulan pertama saya sukses hidup tanpa membeli paket internetan, sebelumnya.. jika gadget saya tak terhubung ke internet, "sayah merasah gelisah luarh biasah pemirsah...". Saya tak lagi memperdulikan COC, Path, saat saya berada diluar kosan/rumah, saya tak lagi memegang gadget, saat berjalan saya tak lagi menggunaka headset (karena emang headsetnya hilang, ada positifnya sih headset gw hilang), tak lagi berjalan dengan menunduk sambil cek Path, Instagram dll. Tulisanku ini seakan-akan menyalahkan teknologi yah?. Hehe.. bukan, bukan teknologi yang perlu kita salahkan. Kitalah yang harus disalahkan, cara pandang kita, cara kita memanfaatkan teknologi itulah yang harus kita perbaiki. Coba lihat gambar dibawah ini: Saya tak mengajak teman-teman untuk anti terhadap teknologi, saya hanya ingin mengajak teman-teman untuk mengurangi kecanduan terhadap smartphone yang membuat kita lupa terhadap manusia-manusia disekitar kita. Justru saya sangat menyarankan teman-teman untuk memanfaatkan kemudahan, kemurahan, dan kenyamanan yang ditawarkan oleh teknologi. Kita bisa memanfaatkan WhatsApp untuk chatting sebagai pengganti SMS yang sangat mahal, kita juga bisa bertatap muka bersama orang terkasih tanpa harus membayar mahal dengan memanfaatkan Skype, dll. Namun ketika orang terdekat, tersayang, saudara, orang tua kita duduk bersama kita.. jauhkanlah gadget. Jangan biarkan "Sosial media mendekatkan yang jauh, tapi malah menjauhkan yang dekat".
  Penulis :  Tryandry/kompasiana

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tryandry/sosmed-mendekatkan-yang-jauh-menjauhkan-yang-dekat_56569b206423bd450731f1e6


Sabtu, 14 Februari 2015

GUS JA'FAR ; NUKILAN CERAMAH GUSMUS

Di antara putera-putera Kiai
Saleh, pengasuh pesantren
"Sabilul Muttaqin" dan sesepuh
di daerah kami, Gus Jakfar-lah
yang paling menarik
perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan 
sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan 
yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa
pejabat tinggi dari pusat
memerlukan sowan khusus
ke rumahnya setelah
mengunjungi Kiai Saleh. Kata
Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem,
bahkan Kiai Saleh sendiri
segan dengan anaknya yang
satu itu. "Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita
Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan 
putera bungsu Kiai Saleh itu. 
"Saya sendiri tidak paham apa maksudnya." "Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa,"
 kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering
mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. 
Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. 
Kalian ingat,
Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu,
 sebelum dilamar orang
sabrang kan ketemu Gus
Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar
bilang, 'Sum, kulihat
keningmu kok bersinar, sudah
ada yang ngelamar ya?' Tak lama kemudian orang sabrang
itu datang melamarnya." "Kang Kandar kan juga
begitu," timpal Mas Guru
Slamet. "Kalian kan
mendengar sendiri ketika Gus
Jakfar bilang kepada tukang
kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok
sudah bengkok, sudah capek
menghirup nafas ya?' Lho,
ternyata besoknya Kang
Kandar meninggal." "Ya. Waktu itu saya pikir Gus
Jakfar hanya berkelakar,"
sahut Ustadz Kamil, "Nggak
tahunya beliau sedang
membaca tanda pada diri Kang
Kandar." "Saya malah mengalami
sendiri," kata Lik Salamun,
pemborong yang dari tadi
sudah kepingin ikut bicara. "Waktu itu, tak ada hujan tak
ada angin, Gus Jakfar bilang
kepada saya, 'Wah, saku
sampeyan kok mondol-
mondol; dapat proyek besar
ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan
percaya atau tidak, esok
harinya saya memenangkan
tender yang diselenggarakan
Pemda tingkat propinsi." "Apa yang begitu itu disebut
ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik
yang sejak tadi hanya asyik
mendengarkan. "Mungkin saja," jawab Ustadz
Kamil. "Makanya saya justru
takut ketemu Gus Jakfar.
Takut dibaca tanda-tanda
buruk saya, lalu pikiran saya
terganggu." *** Maka, ketika kemudian sikap
Gus Jakfar berubah,
masyarakat pun geger;
terutama para santri kalong,
orang-orang kampung yang
ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang
Solikin yang selama ini merasa
dekat dengan beliau. Mula-
mula Gus Jakfar menghilang
berminggu-minggu, kemudian
ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi
manusia biasa. Dia sama sekali
berhenti dan tak mau lagi
membaca tanda-tanda. Tak
mau lagi memberikan isyarat-
isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar
kehilangan keistimewaannya. "Jangan-jangan ilmu beliau
hilang pada saat beliau
menghilang itu," komentar
Mas Guru Slamet penuh
penyesalan. "Wah, sayang
sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?" "Ke mana beliau pergi saat
menghilang pun, kita tidak
tahu," kata Lik Salamun.
"Kalau saja kita tahu ke mana
beliau pergi, mungkin kita
akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan
mengapa beliau kemudian
berubah." "Tapi, bagaimanapun ini ada
hikmahnya," ujar Ustadz
Kamil. "Paling tidak, kini kita
bisa setiap saat menemui Gus
Jakfar tanpa merasa deg-
degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya
dengan niat tulus mencari
ilmu. Maka, jangan kita ingin
mengetahui apa yang terjadi
dengan gus kita ini hingga
sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya
kita langsung saja menemui
beliau." Begitulah, sesuai usul Ustadz
Kamil, pada malam Jum'at
sehabis wiridan salat Isya,
saat mana Gus Jakfar prei,
tidak mengajar; rombongan
santri kalong sengaja mendatangi rumahnya.


Kali ini hampir semua anggota
rombongan merasakan
keakraban Gus Jakfar, jauh
melebihi yang sudah-sudah.
Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan,
was-was dan takut. Setelah ngobrol ke sana
kemari, akhirnya Ustadz
Kamil berterus terang
mengungkapkan maksud
utama kedatangan
rombongan: "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa,
malam ini kami datang juga
dengan sedikit keperluan
khusus. Singkatnya, kami
penasaran dan sangat ingin
tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan." "Perubahan apa?" tanya Gus
Jakfar sambil tersenyum
penuh arti. "Sikap yang mana?
Kalian ini ada-ada saja. Saya
kok merasa tidak berubah." "Dulu sampeyan kan biasa dan
suka membaca tanda-tanda
orang," tukas Mas Guru
Slamet, "kok sekarang tiba-
tiba mak pet, sampeyan tak
mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau." "O, itu," kata Gus Jakfar
seperti benar-benar baru tahu.
Tapi dia tidak segera
meneruskan bicaranya. Diam
agak lama. Baru setelah
menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan,
"Ceritanya panjang." Dia
berhenti lagi, membuat kami
tidak sabar, tapi kami diam
saja. "Kalian ingat, saya lama
menghilang?" akhirnya Gus
Jakfar bertanya, membuat
kami yakin bahwa dia benar-
benar siap untuk bercerita.
Maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam
saya bermimpi ketemu ayah
dan saya disuruh mencari
seorang wali sepuh yang
tinggal di sebuah desa kecil di
lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea
rah selatan. Namanya Kiai
Tawakkal. Kata ayah dalam
mimpi itu, hanya kiai-kiai
tertentu yang tahu tentang
kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri
yang belajar kepada beliau
pun rata-rata sudah disebut
kiai di daerah masing-masing." "Terus terang, sejak bermimpi
itu, saya tidak bisa menahan
keinginan saya untuk
berkenalan dan kalau bisa
berguru kepada Wali
Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit
siapa-siapa, saya pun pergi ke
tempat yang ditunjukkan
ayah dalam mimpi dengan
niat bilbarakah dan menimba
ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua
orang yang saya jumpai
mengaku tidak mengenal
nama Kiai Tawakkal. Baru
setelah seharian melacak ke
sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk." 'Cobalah nakmas ikuti jalan
setapak di sana itu' katanya.
'Nanti nakmas akan berjumpa
dengan sebuah sungai kecil;
terus saja nakmas
menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan
melihat gubuk-gubuk kecil
dari bambu. Nah,
kemungkinan besar orang
yang nakmas cari akan
nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di
tengah-tengah itulah tinggal
seorang tua seperti yang
nakmas gambarkan. Orang
sini memanggilnya Mbah Jogo.
Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?'
 'Kiai Tawakkal.' 'Ya, Kiai Tawakkal. Saya
yakin itulah orangnya, Mbah
Jogo.' "Saya pun mengikuti
petunjuk orang tua itu,
menyeberang sungai dan
menemukan sekelompok
rumah gubuk dari bambu." "Dan betul, di gubuk bambu
yang terletak di tengah-
tengah, saya menemukan Kiai
Tawakkal alias Mbah Jogo
sedang dikelilingi santri-
santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima
dengan penuh keramahan,
seolah-olah saya sudah
merupakan bagian dari
mereka. Dan kalian tahu?
Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak
mencerminkan sosoknya
sebagai orang tua. Tubuhnya
tegap dan wajahnya berseri-
seri. Kedua matanya indah
memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur.
Hampir semua kalimat yang
meluncur dari mulut beliau
bermuatan kata-kata
hikmah." Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti,
menarik nafas panjang, baru
kemudian melanjutkan,
"Hanya ada satu hal yang
membuat saya terkejut dan
tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada
tanda yang jelas sekali, seolah-
olah saya membaca tulisan
dengan huruf yang cukup
besar dan berbunyi 'Ahli
Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat
tanda yang begitu gambling.
Saya ingin tidak mempercayai
apa yang saya lihat. Pasti saya
keliru. Masak seorang yang
dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang
lain, disurati sebagai ahli
neraka. Tak mungkin. Saya
mencoba meyakin-yakinkan
diri saya bahwa itu hanyalah
ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening
beliau. Bahkan belakangan
saya melihat tanda itu
semakin jelas ketika beliau
habis berwudhu. Gila!" "Akhirnya niat saya untuk
menimba ilmu kepada beliau,
meskipun secara lisan
memang saya sampaikan
demikian, dalam hati sudah
berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan
memecahkan keganjialan ini.
Beberapa hari saya amati
perilaku Kiai Tawakkal, saya
tidak melihat sama sekali hal-
hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak
begitu berbeda dengan
kebanyakan kiai yang lain:
mengimami salat jamaah;
melakukan salat-salat sunnat
seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-
kitab (umumnya kitab-kitab
besar); mujahadah; dzikir
malam; menemui tamu; dan
semacamnya. Kalaupun beliau
keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan
atau- dan ini sangat jarang
sekali- mengisi pengajian
umum. Memang ada kalanya
beliau keluar pada malam-
malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu
pun merupakan kegiatan
rutin yang sudah dijalani Kiai
Tawakkal sejak muda.
Semacam lelana brata, kata
mereka." "Baru setelah beberapa
minggu tinggal di 'pesantren
bambu', saya mendapat
kesempatan atau tepatnya
keberanian untuk mengikuti
Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan
untuk mendapatkan jawaban
atas tanda tanya yang selama
ini mengganggu saya." "Begitulah, pada suatu malam
purnama, saya melihat Kiai
keluar dengan berpakaian
rapi. Melihat waktunya yang
sudah larut, tidak mungkin
beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan
atau lainnya. Dengan hati-hati
saya membuntutinya dari
belakang; tidak terlalu dekat,
tapi juga tidak terlalu jauh.
Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan
dengan langkah yang tetap
tegap. Akan ke mana beliau
gerangan? Apa ini yang
disebut semacam lelana brata?
Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati
mengikutinya, khawatir tiba-
tiba Kiai menoleh ke
belakang." "Setelah melewati kuburan
dan kebun sengon, beliau
berbelok. Ketika kemudian
saya ikut belok, saya kaget,
ternyata sosoknya tak
kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang
penuh pengunjung. Terdengar
gelak tawa ramai sekali.
Dengan bengong saya
mendekati warung terpencil
dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang
satu masih muda dan yang
satunya lagi agak lebih tua-
dengan dandanan yang menor
sibuk melayani pelanggan
sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin
Kiai mampir ke warung ini,
pikir saya. Ke warung biasa
saja tidak pantas, apalagi
warung yang suasananya saja
mengesankan kemesuman ini. 'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya
dikagetkan oleh suara yang
tidak asing di telinga saya,
memanggil-manggil nama
saya. Masyaallah, saya hampir-
hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan
saya. Memang betul, mata
saya melihat Kiai Tawakkal
melambaikan tangan dari
dalam warung. Ah. Dengan
kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan
menghampiri kiai yang saya
yang duduk santai di pojok.
Warung penuh dengan asap
rokok. Kedua wanita menor
menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai
Tawakkal menyuruh orang
disampingnya untuk bergeser,
'Kasi kawan saya ini tempat
sedikit!' Lalu, kepada orang-
orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya.
Katanya, 'Ini kawan saya, dia
baru datang dari daerah yang
cukup jauh. Cari pengalaman
katanya'. Mereka yang
duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan,
menjabat tangan saya dengan
ramah; sementara yang jauh
melambaikan tangan". "Saya masih belum
sepenuhnya menguasai diri,
masih seperti dalam mimpi,
ketika tiba-tiba saya dengar
Kiai menawari, 'Minum kopi
ya?!' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi,
Yu!' kata Kiai kepada wanita
warung sambil mendorong
piring jajan ke dekat saya.
'Silakan! Ini namanya rondo
royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya
hanya menganggukkan
kepala asal mengangguk." "Kiai Tawakkal kemudian
asyik kembali dengan
'kawan-kawan'-nya dan
membiarkan saya bengong
sendiri. Saya masih tak habis
pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal
waliyullah dan dihormati para
kiai lain bisa berada di sini.
Akrab dengan orang-orang
beginian; bercanda dengan
wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata?
Ataukah ini merupakan dunia
lain beliau yang sengaja
disembunyikan dari
umatnya? Tiba-tiba saya
seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama
ini mengganggu saya dan
karenanya saya bersusah
payah mengikutinya malam
ini. O, pantas di keningnya
kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya
terhadap beliau berubah." 'Mas, sudah larut malam,'tiba-
tiba suara Kiai Tawakkal
membuyarkan lamunan saya.
'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa
menunggu jawaban saya, Kiai
membayari minuman dan makanan kami, berdiri,
melambai kepada semua,
kemudian keluar. Seperti
kerbau dicocok hidung, saya
pun mengikutinya. Ternyata
setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak
menyusuri jalan-jalan yang
tadi kami lalui. 'Biar cepat, kita
mengambil jalan pintas saja!'
katanya." "Kami melewati pematang,
lalu menerobos hutan, dan
akhirnya sampai di sebuah
sungai. Dan, sekali lagi saya
menyaksikan kejadian yang
menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas
permukaan air sungai, seolah-
olah di atas jalan biasa saja.
Sampai di seberang, beliau
menoleh ke arah saya yang
masih berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!'
teriaknya. Untung saya bisa
berenang; saya pun kemudian
berenang menyeberangi
sungai yang cukup lebar.
Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-
duduk di bawah pohon randu
alas, menunggu. 'Kita istirahat
sebentar,' katanya tanpa
menengok saya yang sibuk
berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum
subuh kita sudah sampai
pondok.' Setelah saya ikut duduk di
sampingnya, tiba-tiba dengan
suara berwibawa, Kiai
berkata mengejutkan,
'Bagaimana? Kau sudah
menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah
menemukan pembenar dari
tanda yang kaubaca di kening
saya? Mengapa kau seperti
masih terkejut? Apakah kau
yang mahir melihat tanda- tanda menjadi ragu terhadap
kemahiranmu sendiri?' Dingin
air sungai rasanya semakin
menusuk mendengar rentetan
pertanyaan beliau yang
menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau
yang kemudian terus
berbicara. 'Anak muda, kau tidak perlu
mencemaskan saya hanya
karena kau melihat tanda
"Ahli Neraka" di kening saya.
Kau pun tidak perlu bersusah-
payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku
memang pantas masuk
neraka. Karena, pertama, apa
yang kau lihat belum tentu
merupakan hasil dari
pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu,
sebagaimana neraka dan
sorga, aku adalah milik Allah.
Maka terserah kehendak-Nya,
apakah Ia memasukkan
diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-
Nya ke sorga atau neraka,
sebenarnyalah Ia tidak
memerlukan alasan. Sebagai
kiai, apakah kau berani
menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga
kelak? Atau kau berani
mengatakan bahwa orang-
orang di warung yang tadi
kau pandang sebelah mata itu
pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin
dipandang baik oleh-Nya, kita
ingin berdekat-dekat dengan-
Nya, tapi kita tidak berhak
menuntut balasan kebaikan
kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal
dari-Nya. Bukankah begitu?' Aku hanya bisa menunduk.
Sementara Kiai Tawakkal
terus berbicara sambil
menepuk-nepuk punggung
saya. 'Kau harus lebih berhati-
hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah.
Cobaan yang berupa anugerah
tidak kalah gawatnya
dibanding cobaan yang berupa
penderitaan. Seperti mereka
yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang
susah. Orang susah sulit kau
bayangkan bersikap
takabbur; ujub, atau sikap-
sikap lain yang cenderung
membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang
mempunyai kemampuan dan
kelebihan: godaan untuk
takabbur dan sebagainya itu
datang setiap saat. Apalagi
bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh
banyak pihak' Malam itu saya benar-benar
merasa mendapatkan
pemahaman dan pandangan
baru dari apa yang selama ini
sudah saya ketahui. 'Ayo kita pulang!' tiba-tiba
Kiai bangkit. 'Sebentar lagi
subuh. Setelah sembahyang
subuh nanti, kau boleh
pulang.' Saya tidak merasa
diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak
dari kiai luar biasa ini." "Ketika saya ikut bangkit,
saya celingukan. Kiai
Tawakkal sudah tak tampak
lagi. Dengan bingung saya
terus berjalan. Kudengar azan
subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan
surau bambu. Seperti orang
linglung, saya datangi surau
itu dengan harapan bisa
ketemu dan berjamaah salat
subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai
Tawakkal, orang yang mirip
beliau pun tak ada. Tak
seorang pun dari mereka yang
berada di surau itu yang saya
kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang
menghampiri saya. 'Apakah
sampeyan Jakfar?' tanyanya.
Ketika saya mengiyakan,
orang itu pun menyerahkan
sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang
milik saya sendiri. 'Ini titipan
Mbah Jogo, katanya milik
sampeyan.' 'Beliau di mana?' tanya saya
buru-buru. 'Mana saya tahu?' jawabnya.
'Mbah Jogo datang dan pergi
semaunya. Tak ada seorang
pun yang tahu dari mana
beliau datang dan ke mana
beliau pergi.' Begitulah ceritanya. Dan Kiai
Tawakkal alias Mbah Jogo
yang telah berhasil mengubah
sikap saya itu tetap
merupakan misteri." Gus Jakfar sudah mengakhiri
ceritanya, tapi kami yang dari
tadi suntuk mendengarkan
masih diam tercenung sampai
Gus Jakfar kembali
menawarkan suguhannya. Rembang, Mei 2002 
                                              sumber:internet 

Rabu, 19 November 2014

MEKAR SAAT AZAN BERKUMANDANG

 Amazing! Bunga Ini Mekar Saat Adzan Berkumandang : Di Azerbaijan terjadi fenomena alam yang sungguh mengagumkan, sejumlah bunga bermekaran ketika mendengar lantunan adzan berkumandang. Seperti apa?

Seakan suara adzan yang mengalun merdu membangunkan bunga-bunga yang sedang tertidur. Stasiun televisi CNN dalam saluran videonya menayangkan fenomena mukjizat lantunan adzan itu. Bunga-bunga yang mulanya kuncup secara ajaib ‘terbangun’ dan bermekaran tatkala adzan berkumandang. Fenomena luar biasa ini pun langsung mendapat perhatian media-media barat.

Dalam siaran persnya yang diunggah di Youtube, nampak bunga berwana kuning masih dalam kondisi kuncup sebelum adzan berkumandang. Saat suara adzan mengalun, bunga-bunga tersebut pun mekar. Alhasil bunga-bunga ini selalu mekar setiap lima waktu shalat. Mulanya CNN tak percaya dengan fenomena ini. Hal tersebut bisa dilihat dari reaksi reporter dalam video tersebut.

Nampak reporter CNN terkesima atas fenomena yang terjadi. Tatkala suara adzan berkumandang, bunga-bunga di video tersebut langsung mekar, sang reporter pun nampak kaget. Tidak sabar melihat bagaimana fenomena alam tersebut? Simak mukjizat bunga mekar saat mendengar lantunan suara adzan pada video Youtube berikut ini :

https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=iRqekSOnLFQ


(Sumber: Internet)

Rabu, 12 November 2014

SUBUH YANG PUNYA KEAJAIBAN




Buya Drs KH Saeful Azhar
”Penelitian mutakhir membuktikan, shalat subuh bisa menjadi terapi berbagai penyakit. Selain menghilangkan kemalasan dan menyegarkan badan, shalat yang dianggap berat oleh orang munafik ini juga dapat melancarkan peredaran darah pasca tidur. Tak hanya itu, langkah kaki ke masjid ternyata dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengganti sel-sel rusak, memperbaiki kinerja jantung dan meningkatkan kemampuan otak, demikian antara lain tulis Syah Adnan Tharsyah dalam buku ‘Hidup Sehat dengan Shalat Subuh’.

Begitu utamanya waktu shubuh dan menghadiri shalat subuh berjamaah, sampai-sampai Rasulullah SAW., berdoa kurang lebih, “Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun subuh.” Dan dalam hadis lain beliau SAW., memberi jaminan dengan sabdanya: ” Berpagi-pagilah kamu dalam mencari rezeki dan segala keperluan / hajat karena sesungguhnya di pagi hari itulah terdapat barakah dan keuntungan.”

Lukman Nul Hakim, ahli hikmah yang namanya dicantumkan dalam Al-Quran pernah berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah kamu lebih bodoh dari ayam jantan. Ditengah malam, ia berkokok untuk membangunkan orang, sementara kamu tetap tertidur lelap. ”Sungguh beralasan kalau Imad Ali Abdus Sami’ Husain mengungkapkan rasa keprihatinannya, “Sungguh, masjid-masjid di seluruh penjuru dunia ini merintih pedih dan mengeluh kepada Allah karena dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin ketika shalat subuh tengah dilaksanakan. Kalau bukan karena ketentuan Allah bahwa benda-benda mati itu tidak bisa bicara, tentu manusia dapat mendengar suara rintihan dan gemuruh tangis masjid-masjid itu mengadu kepada Robbnya Yang Agung ” (Buku Keajaiban Sholat Subuh).”

Shalat subuh menjadi salah satu ujian terberat bagi umat Islam. Karena menurut fakta di lapangan, mayoritas kaum muslimin saat ini seringkali tak berdaya untuk mengibaskan ‘debu-debu’ kantuk yang menaburi mata keimanan dan mata jasad mereka, sehingga mata mereka seakan-akan terus saja terkatup, walaupun menara-menara azdan sampai serak suaranya dan mihrab-mihrab masjid berurai air matanya, memanggil-manggil,  dimanakah orang-orang yang shalat subuh? ”kilah Syaikh Nada Abu Ahmad dalam buku Rahasia Shalat Subuh. Padahal dalam adzan subuh itu telah ditambahkan satu kalimat khusus “Shalat lebih baik dari pada tidur-Shalat lebih baik dari pada tidur.”

Dan Rasulullah SAW., menjamin: “Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya secara berjamaah, maka ia seperti shalat malam separoh malam. Dan barang siapa yang melaksanakan shalat subuh secara berjamaah, maka ia seperti shalat malam satu malam penuh” (HR.Muslim).

Mau tahu keutamaan shalat sunat sebelum shalat fardhu subuh? Nabi SAW,. menegaskan, “Shalat sunat dua rakaat sebelum shalat shubuh lebih baik dari seluruh dunia dan isinya.” Diriwayatkan dari Sayyidina Aisyah RA., beliau berkata, “Tidak ada shalat sunnah yang lebih diperhatikan Rasulullah SAW,. selain shalat sunnah sebelum shubuh.” (HR.Bukhari). Nah, pahala shalat sunat sebelum shubuh saja sudah begitu besar, apalagi shalah fardhu shubuhnya bukan ?

”Penelitian mutakhir membuktikan, shalat subuh bisa menjadi terapi berbagai penyakit. Selain menghilangkan kemalasan dan menyegarkan badan, shalat yang dianggap berat oleh orang munafik ini juga dapat melancarkan peredaran darah pasca tidur. Tak hanya itu, langkah kaki ke masjid ternyata dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengganti sel-sel rusak, memperbaiki kinerja jantung dan meningkatkan kemampuan otak,” demikian antara lain tulis Syah Adnan Tharsyah dalam buku ‘Hidup Sehat dengan Shalat Subuh.’

Betapa dahsyatnya keutamaan orang yang menghadiri shalat shubuh di masjid tertuang dalam hadis Rasulullah SAW., “Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan malam menuju masjid bahwa mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud dan Turmuzi). Shalat shubuh menempati posisi yang sangat penting dan dimuliakan di hadapan Allah SWT. Itulah sebabnya kenapa Al-Quran merasa perlu untuk menyebut shalat shubuh secara tersendiri. Di dalamnya tersimpan kebeningan, kedamaian dan kemuliaan siapa saja yang sanggup menegakkannya dengan sempurna. Sesungguhnya Shalat Fajar (shalat shubuh) itu disaksikan (oleh malaikat) – QS. Al Isra 78, ”tutur Abu Ahmad Al Manshuri dalam buku Mu’jizat Shalat Fajar.

“Di balik pelaksanaan dua rakaat di ambang fajar, tersimpan rahasia yang menakjubkan. Banyak permasalahan yang bila dirunut, bersumber dari pelaksanaan shalat subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya para sahabat Nabi berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas itu. Pernah, suatu ketika mereka terlambat shalat subuh dalam penaklukkan benteng Tastar, tragedi ini membuat sahabat semisal Anas bin Malik selalu menangis bila mengenangnya. Yang menarik, shubuh ternyata juga menjadi waktu peralihan dari era jahiliyah menuju era tauhid. Kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka lainnya dilibas petaka pada waktu subuh yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid.” (Buku Dr.Raghib As-Sirjani).

Memang shalat shubuh merupakan standar nilai sebuah umat. Umat yang lalai akan subuh berjamaah, adalah umat yang tidak berhak mendapat kejayaan (berkah), akan tetapi berhak untuk diganti dengan yang lain. Umat yang menjaga shalat shubuh secara berjamaah adalah umat yang berhak untuk tegak kokoh di muka bumi.

Minggu, 24 Agustus 2014

KEMENAG DI 'DELETE' DI ERA JOKOWI?

kalangan pesantren
KEMENAG-Adanya isu likuidasi Kementrian Agama di era Joko Widodo akan menggegerkan banyak kalangan belum beredar sih saya pun baru melihat dari status fb teman  yangmendapat informasi dari berita rencana Tim Transisi Jokowi-JK, katanya dengan dasar yang sederhana adanya korupsi Al-Qur’an beberapa waktu lalu. Kementrian Agama yang sudah ada sejak jaman Presiden Soekarno ini akankah berakhir tragis ? permasalahan yang klasik, Soal Pengelolaan Pendidikan Madrasah yang akan di gabungkan ke Kemendiknas dan adanya Kementrian Urusan Haji Dan Umroh yang menghangat akhir akhir ini
Lalu bagaimana nasib para Penyuluh Agama dan Pondok Pesantren kelak jika Kemenag benar benar tiada di kabinetnya Jokowi? Sebuah Pertanyaan besar dengan dasar karena Kementrian Agama bukan hanya mengurusi Pendidikan dan Haji, tapi juga urusan perkawinan di daerah (KUA) dan lainnya. Saya Memprediksi rencana tersebut takkan terwujud dan banyak menghadapi hambatan dan protes masyarakat serta karyawan Kemenag sendiri, So saran saya Jokowi-JK jangan Memaksakan diri@ridwanhartiwan

Jumat, 15 Agustus 2014

Catatan Tengah Hari dari PUSDAI

Curhat-Shalat itu tiang agama.itulah yang diajarkan para guru mengaji saya sejak kecil. Hari ini saya melihat banyak orang 'berbeda' yang juga shalat di masjid ini. Dr Rahman Maas dalam khutbah Jumat hari ini di Masjid Pusdai kesenangan dan musibah harus di terima oleh Alloh SWT. Dalam ibadah yang berat terkandung nilai yang hebat didalamnya, seperti puasa.dari sini saya bisa menilai diri walau untuk hari ini saja. Segala sesuatu yang dijalani betapapun berat urusan tersebut tentu akan ada keindahan, hikmah dan barokah tersendiri. Ibadah yang pada awalnya berat atau berbeban namun solusinya..dalam quran ada untaian doa 'afrig alaina sobro, wa tawaffana muslimiin.. Berikan kepada kami kesabaran dan wafatkan kami dalam keadaan muslim@catatan tengah hari di pusdai

Senin, 04 Agustus 2014

SAKIT HATI DENGAN FACEBOOK & SAVE PALESTINE NOW!!!


Saya sangat sakit hati dengan pertemanan semu di FB akhir akhir ini, sehingga saya walaupun untuk sementara tidak akan mengaktifkan semua akun FB, jengah saat melihat saudara-saudara kita sesama Muslim dikejar pasukan Yahudi di Gaza sana. sementara kita malah asyik ber FB ria dengan materi yang kurang perlu seolah menyakiti hati kaum Muslimin di Gaza secara tidak langsung.

Berharap pertolongan ALLOH SWT dengan yakin Dia akan membantu kaum Muslimin Ghaza khususnya dan dibelahan dunia lain pada umumnya, Semoga Palestina segera merdeka dengan sesungguhnya sehingga memiliki Angkatan Perang yang hebat! Allohu Akbar !!! 


Selasa, 29 Juli 2014

Mudik, Macet, Maksa

TRADISI MUDIK-Tradisi ini memang saya lakukan sama seperti kebanyakan orang, mudik ke rumah orang tua di Cimahi untuk silaturahmi tahunan, Macet tidak apa apa, gak masalah kemarin juga kepegat macet di Lembang dan Bandung saat mudik ini 

Tinggal di pondok juga santri pada pulang. Istri juga belum punya lagi sejak 2012, Sekedar intermezzo saja, dalam 2 tahun terakhir saya selalu mudik dengan datang ke rumah orang tua dulu, besoknya jemput Arini (anak semata wayang) ke rumah ibunya di Kiara Condong bersama para sepupu dari Cimahi, 

Biasanya Besoknya antar orang tua kesana sini.'Maksa' mudik tahun inimah alhamdulillah bisa bagi bagi rezeki walau gak banyak
@thk u alloh swt


-----------------------------------------------------------------------


 Saya dan Keluarga besar Pondok Pesantren Darul Falah Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H, Mohon Maaf Lahir & Bathin

Sabtu, 05 Juli 2014

Pemimpin Artifisial, Pemimpin Manipulatif

Kepemimpinan adalah seni, maka bagi siapa saja yang ingin memimpin dia harus mengetahui cara memimpin yang akan dia pakai untuk menggerakkan orang lain. Pemimpin dilahirkan dari tempaan yang luar biasa keras, seharusnya. Namun pemimpin adalah subjek yang harus jauh dari artifisial kepemimpinan itu sendiri, pemimpin harus lahir dari lingkungannya secara alamiah dari komunitasnya yang terdekat, dia merupakan representasi dari para pemilihnya yang jelas jelas memiliki harapan dan idea. Karenanya pemimpin adalah pilihan kumpulan manusia pemilihnya yang menjadi penyambung lidah rakyatnya bukan yang memaksakan cita cita dirinya sendiri.Sesederhana apapun sebuah organisasi harus melahirkan pemimpin yang kuat, berkarakter dan legitimated. Bukan pemimpin artifisial yang lahir dari pencitraan. So, pemimpin aklamasi adalah pemimpin yang lahir dari manipulasi demokrasi@ridwan hartiwan

Senin, 30 Juni 2014

Obor Rakyat VS Obor Rahmatan Lil Alamin

net
Dua kekuatan Besar 'adu' kuat saat ini di ajang pilpres 2014 Republik Indonesia, Perang urat syaraf hingga kampanye hitam kerap mewarnai bagian dari pesta demokrasi negara yang berpenduduk 200 juta lebih ini

Lebih Gila lagi jika 'Perang' ini melibatkan media cetak, online juga elektronika atas nama Jurnalistik, atas nama bisnis informasi masyarakat menjadi korban yang dikesampingkan para 'calon dewa' pemimpin negeri bahari ini. 

Membaca apa yang di ungkap Tabloid Obor Rakyat yang dikirim ke Pesantren pesantren setelah saya analisa begitu mendalam saya pun menyimpulkan adanya kepentingan oknum-oknum tertentu di tubuh Partai Moncong putih yang berbeda-beda salah satunya menyinggung soal SARA, Soal sentimentil agama menurut saya memang menjadi isu SARA paling menarik untuk menjatuhkan popularitas salah satu Capres dimata masyarakat, perlu pembuktian bahwa jika Capres yang 'tersudut' oleh Tabloid Obor rakyat ini bisa memberi kontribusi nyata bagi kaum Muslimin

PDI-P memang harus punya banyak jagoan hasil didikan pertempuran di banyak medan laga, terlepas benar atau tidak tabloid tersebut  Jokowi bukanlah hasil produk pertempuran menyejarah, dia adalah anak kemarin sore yang mejeng di Mobil ESEMKA di Solo, Booming di media dengan branding blusukannya hingga akhirnya terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta

Ide menerbitkan Tabloid Obor rahmatan Lil Alamin akan menjadi jawaban Jokowi soal tuduhan-tuduhan miring mengandung SARA. kepentingan tabloid penyanggah ini menjadi ril diusung konon oleh Dahlan Iskan yang kerap di juluki Bos Jawa Pos dengan ratusan koran lokal di daerah untuk menjelaskan kepada publik tuduhan tuduhan bernuansa SARA tersebut.

Tapi entahlah kita lihat kedepan apa yang akan terjadi?.....whats to be done @riil

PEMIMPIN 'AKLAMASI' SIAPA MAU ?

ORGANISASI-Sejak lama istilah aklamasi disebut sebagai istilah kemufakatan untuk mencapai sebuah tujuan dalam berorganisasi. Namun sejatinya organisasi  harus mampu  memiliki tujuan organisasi yang jelas yang salah satu dasarnya adalah mekanisme pengangkatan pemimpin. 
Harus didorong oleh siapapun dalam untuk mengesampingkan proses aklamasi dalam pemilihan seorang pemimpin organisasi. Walaupun berat tempuhlah sistem kepemimpinan demokratis dengan tahapan-tahapan musyawarah layaknya sebuah organisasi.
Pemimpin Aklamasi hanya seperti hadiah undian, dan cenderung hanya lipstik alias bukti ketidakpercayaan diri sebuah organisasi melahirkan pemimpin baru.jika sudah begitu ? wallohu a'lam bishowab (riil)

Rabu, 28 Mei 2014

Let No Lie between Us

Life Style- Seharian ini kesibukan saya tetaplah sibuk, tamu dan se abreg agenda yang memang telah menjadi rutinitas. Bukan orang penting tapi banyak orang yang butuh dengan tenaga dan fikiran saya. Pergaulan yang luas membuat saya selalu berfikiran merdeka dan bisa menjalankan lembaga dengan optimal. Tapi ada juga fikiran negatif yang kadang melintas di hati terdalam. Betapa para koruptor yang kini ditahan Di rutan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) hidup mereka lebih "mernah", kamar dan ruangan yang lumayan lebih baik dari kamar saya heee. Makanan dan minuman yang terjamin dengan "menu khas" Kpk yang di biayai negara lebih mewah dari menu sarapan ala kadarnya saya. Tidakkah mereka harus merasakan kehidupan yang lebih pahit akibat perbuatan mereka? Dihukum semua "urusannya" sejak di penjara, bukan hanya dimiskinkan tapi dibiarkan hidup tanpa sokongan anggaran negara sepeser rupiah pun. Pilpres 2014 pun penuh tanda tanya akankah berlangsung mulus atau menjadi chaos karena 'kepolosan'

Minggu, 23 Februari 2014

GURU SEKOLAH DESA DILATIH INTERNETAN

Subang- Puluhan Guru di Subang Selatan dilatih internetan, belum lama ini (Minggu, 16/02) acara yang di gelar oleh yayasan Guna Bangsa Indonesia Subang di gelar pukul 11.00 WIB ini menghadirkan H. Jojo Sutisna, seorang IT asal Jakarta. dalam kesempatan tersebut para guru yang datang dari berbagai kecamatan di Subang Selatan ini dilatih menggunakan internet untuk kepentingan belajar mengajar. Ani Karleni, 33 Guru di sebuah sekolah swasta Islam di kawasan Cisalak mengaku walaupun sarjana tetapi sangat gaptek (gagap tekhnologi)."saya nggak tau soal tekhnologi, jadi guru juga taunya mengajar di kelas belum seluas yang di terangkan tadi, tapi saya jadi ngerti pentingnya tekhnologi internet. mudah mudahan sekolah saya bisa memfasilitasinya dan terus melatih kami

Acara yang berlangsung di Gd. serba Guna (GSG) H. Achi Rahmat, Desa Cimanggu Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang ini Jojo Sutisna sendiri mengaku jika para guru di daerah kerap tertinggal dalam urusan tekhnologi."walaupun depdiknas menyediakan berbagai fasilitas tapi guru di daerah banyak keterbatasannya khususnya dalam bidang tekhnologi seperti internet, karenanya saya juga bersama rekan sangat senang mengajarkan hal ini kepada mereka", papar Jojo yang sempat di utus belajar ke Turki ini dalam acara yang berlangsung hingga pukul 13.00 WIb tersebut

Masih menurut Jojo penggunaan tekhnologi informasi Internet mutlak sangat di perlukan."saat ini sekolah-sekolah di daerah harus lebih melek dalam tekhnologi internet", pungkas Ketua Pemuda PUI Jabar ini (***)

Sabtu, 11 Januari 2014

UNDANG UNDANG ANTI SLAPP ITU APA?



SUBANG,-Ketika berbicara mengenai partisipasi publik dalam Pasal 66 UU PPLH, sering sekali dihubungkan konsep yang dinamakan dengan SLAPP. SLAPP merupakan singkatan dari Strategic Lawsuit Againts Public Participation, yang dapat diterjemahkan sebagai strategi melawan partisipasi publik melalui gugatan/pelaporan pidana. Pada pembahasan di atas telah disebutkan bahwa Pasal 66 UU PPLH merupakan perlindungan bagi partisipasi publik untuk memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. SLAPP merupakan salah satu konsep yang ingin dicegah dengan penerapan Pasal 66 UU PPLH, sehingga banyak yang menyebutkan ketentuan pasal ini dengan nama Anti-SLAPP.
Pasal 66 UU PPLH dapat saja disebutkan sebagai ketentuan yang mengatur mengenai Anti-SLAPP, namun harus dipahami belum ada definisi SLAPP yang diakui di Indonesia. Belum adanya definisi yang baku mengenai SLAPP membuat konsep ini akan lebih mudah dikenali lewat kriteria sebagaimana yang disebutkan oleh Prof. George W. Pring (University of Denver), yaitu:
(1)  Adanya keluhan, pengaduan, tuntutan dari masyarakat atas dampak kerusakan yang terjadi
(2)  Dilakukan terhadap masyarakat secara kolektif, individual, dan organisasi non pemerintah
(3)  Adanya komunikasi yang dilakukan kepada pemerintah atau pejabat yang berwenang
(4)  Dilakukan terhadap isu yang menyangkut kepentingan umum atau perhatian publik
Empat kriteria di atas tentunya dapat terus berkembang mengikuti kondisi yang terjadi di lapangan. Dari kriteria yang disampaikan oleh Pring dapat dilihat bahwa pada umumnya yang menjadi “korban” dari tindakan SLAPP adalah masyarakat. Pring dan Penelope Canan kemudian menegaskan pihak yang menjadi target SLAPP selain masyarakat biasanya adalah organisasi non pemerintah, jurnalis dan media. Pada perkembangan beberapa kasus SLAPP, pemidanaan atau gugatan yang dilakukan lebih bersifat intimidatif dan mengancam untuk menimbulkan ketakutan bagi masyarakat yang menjadi korban. Hal seperti ini menjadi salah satu contoh yang dapat menghilangkan partipasi publik.
Apakah Pasal 66 UU PPLH merupakan Anti-SLAPP?
Sebelum menentukan apakah Pasal 66 UU PPLH merupakan ketentuan Anti-SLAPP atau tidak, harus diketahui terlebih dahulu tipe-tipe SLAPP. SLAPP merupakan suatu konsep yang dilakukan untuk menghilangkan partisipasi publik melalui pelaporan pidana atau gugatan perdata ke pengadilan.  Ada beberapa alasan mengapa SLAPP dilakukan:
(1)  Untuk memberikan intimidasi, teror, ancaman, dan tindakan sejenis lainnya kepada masyarakat/orang perorangan yang ingin memperjuangkan haknya
(2)  Untuk menjaga nama baik pemerintah atau perusahaan yang diduga melakukan pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat
James A Wells memberikan beberapa tipe yang menjadi dasar dilakukannya SLAPP, yaitu:
(1)  Adanya fitnah
(2)  Adanya gangguan yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari
(3)  Adanya gangguan yang dilakukan terhadap pribadi (privat)
(4)  Adanya tindakan yang berbahaya
(5)  Adanya tindakan yang menimbulkan kerugian

Beberapa tipe di atas biasanya menjadi alasan yang dilakukan oleh pelapor atau penggugat untuk melakukan SLAPP. Jika melihat ketentuan perundang-undangan Indonesia, maka kemungkinan terjadinya SLAPP sangat tinggi, apalagi dengan masih berlakunya pasal pencemaran nama baik yang dapat dijadikan salah satu sebab terjadinya SLAPP.
Ketentuan Pasal 66 UU PPLH sejatinya merupakan Anti-SLAPP, namun penegak hukum harus memiliki pemahaman yang lebih mengenai konsep Anti-SLAPP. Hal ini dikarenakan penjelasan Pasal 66 UU PPLH dapat menimbulkan multitafsir.
 Penjelasan Pasal 66
Ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi korban dan/atau pelapor yang  menempuh  cara  hukum  akibat  pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
Perlindungan  ini  dimaksudkan  untuk  mencegah  tindakan pembalasan  dari  terlapor  melalui  pemidanaan  dan/atau gugatan  perdata  dengan  tetap  memperhatikan  kemandirian peradilan.
“Tindakan pembalasan” pada penjelasan Pasal 66 sebaiknya jangan dibaca bahwa Pasal 66 hanya berlaku jika korban dan/atau pelapor sudah menempuh cara hukum, melainkan harus dibaca bahwa tindakan SLAPP dapat terjadi kapan saja, baik sebelum atau sesudah korban dan/atau pelapor menempuh cara hukum. Pemahaman akan konsep Anti-SLAPP akan lebih baik jika diterjemahkan dalam hukum acara di Indonesia. Hal ini akan membuat penanganan kasus-kasus yang ada indikasi SLAPP akan lebih maksimal.
Kesimpulan
Dari berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Pasal 66 UU PPLH merupakan perlindungan terhadap partisipasi publik dan pada hakikatnya merupakan pengaturan untuk mencegah terjadinya SLAPP. Ketentuan Pasal 66 UU PPLH dapat menjadi langkah awal regulasi Anti-SLAPP di Indonesia dan pengembangan konsep Anti-SLAPP sampai kepada Hukum Acara di Indonesia. (internet)by kplh subang

PALING NGETOP